Wednesday, January 30, 2013

Pelatihan = Oli/ Pelumas


Bayangkan, apa yang terjadi kalo mesin mobil/ motor kurang/ kehabisan Oli/ pelumas, pasti akselerasinya menjadi terhambat, macet bahkan bisa terbakar.
 
 

Mesin terdiri dari berbagai komponen yang saling beoperasi untuk menghasilkan daya gerak. Oli menyebabkan mesin bisa beroperasi secara lancar, karena oli menjadi pelumas gesekan yang terjadi antar komponen.
 
 

Organisasi juga seperti mesin. Organisasi terjadi terdiri dari berbagai bagian yang saling berkerja satu sama lain menghasilkan kinerja yang pada akhirnya mencapai target ataupun sadaran dari Organisasi.


Pelatihan juga berfungsi sebagai pelumas dalam organisasi. Melalui program pelatihan Perusahaan memberikan pembekalan karyawannya dengan berbagai pengetahuan, prosedur, ketrampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk dpst bekerja dengan produktif dalam organisasi/ perusahaan.

Contoh : Sebuah perusahaan ingin menerapkan budaya kebersihan, kerapihan dan ketertiban untuk meningkatkan kinerja. Setelah melalui penelusuran program yang ada dipasaran, mereka ingin mengadopsi 5S dari Kaizen. Pertanyaannya bagaimana program ini dilaksanakan sehingga tujuan awal tercapai. Sebagian Manager berpendapat bahwa training ini hanya cukup diberikan kepada level bawah karena mereka yang sangat berperanan dalam menciptakan kebersihan, kerapihan dan ketertiban. Ada yang berpendapat cukup Supervisor saja, karena beikutnya Supervisor yang harus mengajarkan.


Semua pendapat diatas benar, tergantung sudut pandang dan tujuannya. Kita harus mengingat bahwa pelatihan berfungsi sbagai pelumas dalam organisaso, sehingga semus pihak yang terlibat dalam pembentukkan budaya yang baru ini harus terlibat. Dalam permasalahan diatas pelstihan ini harus diberikan kepafa semua level tetapi dengan cara dan materi yang disesuaikan masing-masing. Kepada para Manajer mungkin diajarkan cata melakukan evaluasi dan pemberian hadiah/ hukuman, kepada Supervisor diberikan cara-cara melakukan supervisi. Kepada level pelaksana diberikan cara-cara dengan contoh bagaimana penrapan program ini. Dengan semua bagian mendapatkan pelatihan ini maka tidak terjadi adanya bagian yang kekurangan pelumas.

Monday, January 28, 2013

Spiritual SAMURAI

"Diantara bunga-bunga ada Sakura, diantara laki-laki ada Samurai"

Dikutip dari buku :
SPIRITUAL SAMURAI
Karya : Bp. Ary G. Agustian

Pada satu perjalanan di Kyoto, pada Oktober 2008, Bp. Ary menggunakan taksi menuju ke Hotel, ketika hampir tiba, seharusnya sopir membelok ke kanan tetapi tetap lurus, akibatnya taksi harus berputar lagi. Menyadari kesalahannya, sopir memohon maaf berkali-kali dan segera mematikan argometernya. Saat itu Bp. Ary merasa kagum atas tindakan sopir yang tidak ingin merugikan penumpangnya. Setelah akhirnya sampai, Bp. Ary menyerahkan 650 yen sesuai jumlah terakhir yang diingatnya tertera di argometer. Namun sopir taksi menolak untuk dibayar. Bp. Ary tetap berusaha menyerahkan uang karena sopir tersebut telah mengantar ke Hotel, tapi sopir taksi bersikeras menolak dibayar, IA MERASA MALU TIDAK MAMPU MENJALANKAN TUGASNYA DENGAN BAIK.

Setelah peristiwa Hirosima dan Nagasaki, dalam kurun dua dekade Jepang telah menjadi negara paling maju di Asia Timur dan berpengaruh dalam perekonomian dunia.

Karakter dan mentalitas istimewa masyarakat Jepang :
- Kejujuran
- Tanggung Jawab
- Kesetiaan
- Hormat
- Pantang Menyerah
- Disiplin
- Keberanian

Nilai-nilai tersebut berakar dari nilai-nilai kaum Samurai yang menerapkan BUSHIDO.

Bushido terdiri dari kata 'bushi' (ksatria atau prajurit) dan 'do' (jalan). Bushido arti harfiahnya adalah "jalan ksatria" merupakan sebuah sistem etika atau aturan moral kesatriaan yang berlaku dikalangan samurai.

8 Nilai Bushido :
- Gi, integritas
- Yu, keberanian
- Jin, kemurahan hati
- Rei, penghormatan
- Makoto, kejujuran
- Meiyo, nama baik
- Chugo, kesetiaan
- Tei, peduli pada yang lebih tua

Samurai berasal dari kata kerja bahasa Jepang 'saburau" yang berarti 'melayani'. Yang dinamakan Samurai adalah 'seseorang yang terlahir dari keluarga terhormat yang ditugaskan  mengabdi kepada bangsawan atau menjaga anggota keluarga kekaisaran'.